pendar cahaya dari balik dedahan
singgah ke bulu mata
berlari menghunjam ke tengah corona
menderai air mata
melelehi kerut merut pelipisnya yang kian renta
menetes dalam hening
tanah yang basah
adakah hatinya lebih subur?
fajarnya di timur sejak semula
dan tidurnya di barat dari dulu kala
cahaya maha cahaya
tak kuasa lagi mata ini
menatap nur alam raya
lilin-lilin pendoa
obor perempuan-perempuan desa
kunang-kunang di padang sabana
lampu-lampu menyala
menemani langkah menapaki jalanan kota.
(29 November 2012)
Thursday, November 29, 2012
Monday, October 22, 2012
Kering
kadang nafas ini kering sendiri
berjalan menyusuri jalan-jalan kota
dalam sesaknya asap knalpot
jalan saja
semua orang terus berjalan
menyemut dalam desak lalu lalang
berteduh di bawah pohon tanpa daun
kucari penjaja air
berjalan menyusuri jalan-jalan kota
dalam sesaknya asap knalpot
jalan saja
semua orang terus berjalan
menyemut dalam desak lalu lalang
berteduh di bawah pohon tanpa daun
kucari penjaja air
Sunday, August 26, 2012
Waktu
Kalau ada kota berlangit hijau
ingin aku pergi kesana
meremah ranumnya pucuk-pucuk daun
mereguk beningnya dahaga
membilas pipiku yang kumal dan gusar
oleh debu dan laknat
mungkin waktu bilang tak ada
musafir telah berlaksa kembara
singgah di emper-empernya
menanti gerimis tiba sehabis senja
sungguh tua dan renta
kota ini
terbongkok-bongkok menjejaki waktu
ingin aku pergi kesana
meremah ranumnya pucuk-pucuk daun
mereguk beningnya dahaga
membilas pipiku yang kumal dan gusar
oleh debu dan laknat
mungkin waktu bilang tak ada
musafir telah berlaksa kembara
singgah di emper-empernya
menanti gerimis tiba sehabis senja
sungguh tua dan renta
kota ini
terbongkok-bongkok menjejaki waktu
Wednesday, May 4, 2011
rumah rindu
Perempuan pergi mencari kembara
seperti lelaki
mengarungi tujuh samudera
seperti lelaki
mengarungi tujuh samudera
singgah ke kota-kota mimpi
Tumpah ruah di atas belanga
Srundeng jagung kacang panjang timun suri
tempe besengek
rasa apa yang tak bisa dirasa
waktu pergi ia masih muda
di tangannya digenggam sepotong doa
dicarinya remah-remah syair balada
lalu bersembunyi di barak-barak musafir
merajut mozaik cinta
masih terbuka pintu sewaktu tiba
di dada kanannya sebuah lencana keduapuluh lima
bintang satya maha bijaksana
dirakitnya dari rusuk kanannya yang kian rapuh dan renta
di batas cakrawala
duduk di beranda rumah puisi
mengenang kisah cintanya pada dunia
melukis warna-warna kesukaannya
rumah rindu tak lagi sunyi
untuk:Dhenok & Nana
Jakarta-5 Mei 2011
Tuesday, May 3, 2011
simfoni lesung padi
oncor bambu di sekeliling pematang
mengepul asap dan kemenanyan memuja
mbok Kerto mendaras mantera
ayat-ayatnya membahana bagi segenap warga
berdesakan bocah-bocah desa
menanti sepincuk gudangan dan telor sesaji dibagi
jerami suntingan dewi batari
esok pagi 'kan panen padi
jelang fajar memerah
perempuan menjinjing tenggok di punggung
di tangannya sepucuk ani-ani
satu demi satu dikerat tangkainya
dendang tembang menggumam dari mulutnya
kering bibirnya dan robek capingnya oleh cinta
pada anak-anaknya
kalau senja tiba
ditabuhnya lesung-lesung kebanggaannya
dung dung tang dung dung tang
dung dung tang dung dung tang
simfoni lesung padi
berdentang dalam rindu
berapa lama lagikah tiba diujung lagu
lelaki berjegang dalam pesta
perempuan-perempuan mengelus lebam tangannya
sebelum memejamkan matanya
ia ingat SPP anak-anaknya.
(Jakarta-Mei 2011)
mengepul asap dan kemenanyan memuja
mbok Kerto mendaras mantera
ayat-ayatnya membahana bagi segenap warga
berdesakan bocah-bocah desa
menanti sepincuk gudangan dan telor sesaji dibagi
jerami suntingan dewi batari
esok pagi 'kan panen padi
jelang fajar memerah
perempuan menjinjing tenggok di punggung
di tangannya sepucuk ani-ani
satu demi satu dikerat tangkainya
dendang tembang menggumam dari mulutnya
kering bibirnya dan robek capingnya oleh cinta
pada anak-anaknya
kalau senja tiba
ditabuhnya lesung-lesung kebanggaannya
dung dung tang dung dung tang
dung dung tang dung dung tang
simfoni lesung padi
berdentang dalam rindu
berapa lama lagikah tiba diujung lagu
lelaki berjegang dalam pesta
perempuan-perempuan mengelus lebam tangannya
sebelum memejamkan matanya
ia ingat SPP anak-anaknya.
(Jakarta-Mei 2011)
Wednesday, April 13, 2011
nafas
desah ranting pinus
di pematang ladang tembakau
mengayunkan dawai-dawainya
mengalunkan tembang anak-anak petani
menanti panen tiba
kabut makin erat mendekap
dan langkah kian jauh
meninggalkan desa
di balik bebatuan
menyeret-nyeret langkah
nafas memasuki belukar
dan hujan membenamkan bumi
bagai sirna
(Jakarta-April'2011)
di pematang ladang tembakau
mengayunkan dawai-dawainya
mengalunkan tembang anak-anak petani
menanti panen tiba
kabut makin erat mendekap
dan langkah kian jauh
meninggalkan desa
di balik bebatuan
menyeret-nyeret langkah
nafas memasuki belukar
dan hujan membenamkan bumi
bagai sirna
(Jakarta-April'2011)
Subscribe to:
Comments (Atom)
Kenanga yang Kau utus (11 Mei 2021- untuk Matias) Kukenang harimu bunga kembara mengarungi selat sunda lalu berkelana menyusuri ga...
-
Kenanga yang Kau utus (11 Mei 2021- untuk Matias) Kukenang harimu bunga kembara mengarungi selat sunda lalu berkelana menyusuri ga...
-
pendar cahaya dari balik dedahan singgah ke bulu mata berlari menghunjam ke tengah corona menderai air mata melelehi kerut merut pelipis...
-
kadang nafas ini kering sendiri berjalan menyusuri jalan-jalan kota dalam sesaknya asap knalpot jalan saja semua orang terus berjalan m...